Di tengah dinamika zaman yang bergerak serba cepat, batas-batas normatif sering kali melebur. Perubahan sosial terjadi begitu masif, membawa serta pergeseran cara pandang terhadap berbagai hal fundamental—termasuk identitas dan fitrah manusia. Padahal, jauh sebelum era modernitas menantang batasan-batasan ini, Al-Qur'an telah meletakkan fondasi yang jelas mengenai esensi penciptaan manusia.
Peringatan ini terekam dengan apik dalam Surah Ar-Rum ayat 30. Allah SWT berfirman agar manusia senantiasa meluruskan orientasi hidup sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan-Nya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, dan itulah hakikat agama yang lurus.
Bagi seorang Muslim, ayat ini bukan sekadar teks teologis yang kaku, melainkan sebuah kompas penuntun. Menjaga fitrah berarti merawat identitas diri—termasuk kejelasan peran kelelakian dan keperempuanan—sebagaimana koridor syariat yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari (no. 5885) tentang larangan menyerupai lawan jenis. Di era ketika identitas kerap kali menjadi ruang kontradiksi, kembali kepada prinsip dasar penciptaan adalah bentuk kedaulatan spiritual yang paling fundamental.
Dakwah Empati: Menegur Tanpa Menghakimi
Namun, esensi keberagamaan kita kerap kali diuji pada titik temu antara prinsip dan realitas sosial. Ketika menjumpai individu yang melipir dari jalur fitrah tersebut, bagaimana respons kita sebagai masyarakat beragama? Apakah kebencian dan penghakiman yang harus dikedepankan?
Di sinilah letak keindahan Islam yang sering kali luput dari nalar populis: Islam adalah agama kasih sayang. Menjaga nilai-nilai Islam tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun untuk menjelma menjadi "hakim moral" yang gemar merendahkan atau merundung (bullying).
Al-Qur'an secara tegas menawarkan metodologi komunikasi sosial yang elegan. Melalui Surah An-Nahl ayat 125, Allah memerintahkan umat Islam untuk menyeru kepada kebaikan dengan hikmah (kebijaksanaan), pengajaran yang baik, serta diskursus yang santun.
Ayat ini menyadarkan kita bahwa tugas seorang mukmin bukanlah menghakimi, melainkan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bermartabat. Urusan hidayah sepenuhnya adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Menggunakan kata-kata yang kasar, melabeli secara buruk, apalagi melukai lewat perundungan, justru menjauhkan esensi dakwah itu sendiri dari tujuan utamanya.
Menjaga Diri, Menebar Damai
Perubahan sosial yang kompleks tidak bisa dihadapi dengan reaktivitas emosional. Ia membutuhkan keteguhan prinsip di satu sisi, dan kelapangan dada di sisi yang lain.
Langkah terbaik selalu dimulai dari unit terkecil: diri sendiri. Membentengi diri dengan pemahaman agama yang lurus, sembari memelihara empati sosial kepada sesama manusia, adalah jalan tengah agar kita tidak menjadi pribadi yang keras kepala di atas nama kebenaran, namun tetap teguh memegang prinsip.
Mari merawat fitrah dengan cara yang utuh—tegas dalam prinsip identitas, namun lembut dan santun dalam merangkul kemanusiaan. Semoga Allah senantiasa menjaga langkah kita di atas jalan yang lurus, serta melimpahkan hidayah kepada kita semua.
Oleh: Nailah Aisyah Bachmid
Murid Kelas XI-3 - Tim Jurnalistik SMAMSA
0 Komentar