SURABAYA - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan dan pencarian informasi keislaman. Hanya dengan mengetikkan sebuah pertanyaan, AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut tentu memberikan manfaat. AI dapat membantu pelajar mencari referensi, merangkum bacaan, menjelaskan istilah, menyusun ide, hingga membantu memahami berbagai informasi dengan lebih cepat. Namun, ketika menyangkut ilmu agama, khususnya persoalan akidah, ibadah, fikih, akhlak, dan persoalan keumatan, AI tidak semestinya ditempatkan sebagai pengganti ulama.
AI Memiliki Kemampuan, tetapi Bukan Ulama
AI bekerja dengan mengolah berbagai informasi dan menghasilkan jawaban berdasarkan pola dari data yang dipelajarinya. Karena itu, jawaban AI tetap perlu diperiksa, terutama ketika digunakan untuk menjawab persoalan agama.
AI tidak memiliki kedudukan sebagai alim, tidak memiliki sanad keilmuan seperti ulama, dan tidak menjalani proses pendidikan keagamaan sebagaimana seorang ulama yang belajar kepada guru, memahami berbagai disiplin ilmu, serta mengetahui konteks persoalan yang dihadapi umat.
Dalam tradisi keilmuan Islam, belajar kepada guru merupakan bagian penting dalam proses memperoleh ilmu. Al-Qur'an sendiri mengajarkan:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
> Artinya: Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
> (QS. An-Nahl(16): 43)
Ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu, ia hendaknya bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan.
Ulama Tidak Sekadar Memberikan Jawaban
Keunggulan ulama bukan hanya terletak pada kemampuan memberikan jawaban, tetapi juga pada proses memahami masalah secara menyeluruh.
Dalam persoalan agama, sebuah pertanyaan terkadang tidak cukup dijawab hanya dengan mencari teks atau informasi. Diperlukan pemahaman terhadap Al-Qur'an, hadis, fikih, usul fikih, kaidah bahasa Arab, pendapat para ulama, kondisi orang yang bertanya, serta konteks persoalannya.
Karena itu, seorang guru atau ulama dapat memberikan arahan yang mempertimbangkan ilmu sekaligus hikmah dan kemaslahatan.
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Ulama dan Guru
Menyikapi perkembangan teknologi, pilihan yang tepat bukanlah menolak AI, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari informasi awal, membuat rangkuman, menemukan referensi, atau membantu proses belajar. Namun, informasi tersebut tetap perlu diverifikasi melalui sumber yang terpercaya dan, untuk persoalan keagamaan yang membutuhkan penjelasan atau fatwa, dikonsultasikan kepada guru, ustadz, atau ulama yang kompeten.
Dengan demikian, hubungan antara ulama dan AI tidak harus dipandang sebagai persaingan. AI memiliki kecepatan dalam mengolah informasi, sementara ulama memiliki kedalaman keilmuan dan tanggung jawab dalam membimbing manusia.
Belajar Teknologi, Tetap Berguru kepada Ulama
Bagi pelajar, perkembangan AI justru dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan belajar. Namun, kemajuan teknologi hendaknya tidak membuat generasi muda kehilangan tradisi berguru, membaca kitab, berdiskusi, bertanya, dan menghormati para ahli ilmu.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi proses menuntut ilmu tetap membutuhkan sikap rendah hati dan bimbingan manusia yang berilmu.
AI dapat membantu kita menemukan informasi. Namun, untuk memahami agama dengan benar, jangan berhenti pada layar—tetaplah berguru.
Pada akhirnya, AI adalah alat; ulama adalah rujukan keilmuan. Keduanya dapat berjalan berdampingan, tetapi dalam persoalan keagamaan, keilmuan dan bimbingan ulama tetap menjadi pegangan utama.
Thoriq M
0 Komentar