Di sudut-sudut kelas dan kantin SMA Muhammadiyah 1 Surabaya, sapaan "CEO" bukan ditujukan kepada seorang eksekutif perusahaan berjas rapi. Panggilan itu melekat pada diri Muhammad Al Faruq, seorang siswa yang sibuk merangkap peran sebagai wirausahawan muda. Di sela-sela jadwal sekolah yang padat, ia adalah otak di balik beredarnya camilan Ciscuit yang dijajakan di lingkungan sekolah—sebuah kesibukan kecil yang membuatnya digelari "CEO" oleh teman sekelas dan adik tingkatnya.
Namun, laba dari bungkus-bungkus camilan itu bukan satu-satunya hal yang ia kejar. Di luar urusan berdagang, Faruq menyimpan energi berlebih yang ia tumphkkan di atas rumput hijau.
Awal September lalu, namanya mendadak jadi perbincangan di Lapangan Hoki Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Lidah Wetan. Dalam ajang Surabaya Rising Champions (SRC), Faruq sukses memboyong juara di dua kategori sekaligus: T10 dan Six. Capaian itu terasa ganjil sekaligus mengagumkan, mengingat ia baru mulai serius memegang pemukul kriket sejak Februari lalu.
Bagi Faruq, kriket adalah ruang sunyi yang menjanjikan peluang. Ia sengaja melirik cabang olahraga yang relatif sepi peminat ini untuk membentangkan jalannya sendiri menuju prestasi. Ketekunan fisik itu tak hanya berhenti di lapangan hoki; ia juga rutin melahap kilometer lewat lari pagi, yang kemudian ia dokumentasikan secara rapi di akun Instagram pribadinya, @alfaruq_zy.
Dalam keseharian Faruq, batas-batas peran melebur tanpa canggung. Siang hari ia bisa berdiskusi soal strategi dagang camilan di sekolah, sore harinya ia berjibaku dengan latihan fisik yang menguras keringat, dan di malam hari ia meracik konten digitalnya sendiri.
Kisah Faruq meruntuhkan batasan konvensional tentang bagaimana seorang pelajar seharusnya menghabiskan masa sekolahnya. Di tangan remaja ini, sekolah, kantin, dan lapangan olahraga bertransformasi menjadi satu panggung besar tempat naluri bisnis dan ketangguhan fisik berjalan seiringan.
Penulis: Lanang Seno Kusbandono
0 Komentar