SURABAYA — Di era penjelajahan digital hari ini, layar seluler kita tak pernah sepi dari lalu lintas konten viral. Setiap hari, algoritma menyuguhkan deretan tren baru—mulai dari torehan prestasi yang menginspirasi, hiburan ringan yang memicu tawa, hingga konten demi konten yang sejatinya nirfaedah, bahkan berpotensi merugikan orang lain demi sekadar mengejar atensi.
Fenomena ini perlahan membentuk persepsi baru di kalangan pelajar: "Jika semua orang melakukannya, berarti itu hal yang wajar."
Padahal, dalam kacamata Islam, tolok ukur kebenaran tidak pernah ditentukan oleh kuantitas atau popularitas, melainkan oleh rida Allah SWT.
Tren Bukan Patokan Kebenaran
Terkait dominasi arus utama ini, Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Surah Al-An’am ayat 116:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ ١١٦
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya prasangka belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
Ayat tersebut menjadi cermin mendalam bagi kita, khususnya para generasi muda. Tren dan jumlah pengikut (followers) bukanlah panduan hidup. Sebagai pelajar, jangan sampai kita mengorbankan nilai, etika, dan integritas diri hanya demi meraup ribuan likes atau pengakuan semu di media sosial. Atensi manusia sifatnya hanya sementara, sedangkan penilaian Allah bersifat abadi.
Media sosial pada hakikatnya adalah alat. Nilainya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya. Sudah saatnya kita mengalihkan fungsi media digital menjadi ruang syiar kebaikan, pembagian ilmu, serta penyebaran inspirasi positif.
Mengejar Nilai Abadi
Suatu hari nanti, setiap tren yang hari ini melambung pasti akan dilupakan. Jumlah likes akan berhenti bertambah, algoritma akan berganti, dan nama kita mungkin tak lagi dibicarakan di linimasa. Namun, setiap jejak ketikan, posting-an, dan amal yang kita ukir di dunia digital akan tetap tercatat secara rapi di sisi Allah SWT.
Maka, jangan habiskan energi muda kita hanya untuk mengejar ketenaran sesaat. Kejarlah sesuatu yang memiliki bobot nilai hingga ke akhirat. Mari tumbuh menjadi generasi yang tidak sekadar dikenal karena popularitasnya, tetapi dicintai karena kemuliaan akhlaknya, kebermanfaatannya bagi sesama, serta ketaatannya kepada Sang Pencipta.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah kita, menjaga hati dari perkara yang sia-sia, dan mengukuhkan kita sebagai pemuda yang istiqamah di jalan kebaikan.
Penulis: Alvino Rendyansyah Pratama Putra (Kelas XI-1 - Tim Jurnalistik SMAMSA)
0 Komentar