Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ibadah agung yang memiliki tujuan besar. Maka pertanyaannya: untuk apa dan untuk siapa puasaku?
Untuk Apa Kita Berpuasa?
Untuk Meraih Takwa
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Tujuan utama puasa adalah takwa, kesadaran penuh kepada Allah dalam setiap keadaan.
Untuk Mendapatkan Ampunan Dosa
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari no. 38; Muslim no. 760)
Puasa menjadi sarana penghapus dosa jika dilakukan dengan iman dan ikhlas.
Puasa Itu Khusus untuk Allah
Dalam hadits qudsi Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Allah Ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari no. 1904; Muslim no. 1151)
Puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi dan paling dekat dengan keikhlasan.
Puasa sebagai Perisai
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
(HR. Bukhari no. 1894; Muslim no. 1151)
Puasa membentuk akhlak, menjaga lisan, dan menahan amarah.
2️⃣ Untuk Siapa Puasa Kita?
Hanya untuk Allah
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Puasa bukan untuk pencitraan, bukan untuk pujian manusia, tetapi murni karena Allah.
Bukti Cinta kepada Allah
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 31)
Puasa adalah bukti ketaatan dan kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Peringatan agar Tidak Sia-sia
Rasulullah ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ibnu Majah no. 1690; Ahmad no. 8856)
Hadits ini menjadi muhasabah agar puasa kita tidak sekadar menahan lapar, tetapi benar-benar mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga puasa kita diterima, diampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba yang bertakwa.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Thoriq M