Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, kita sering mendengar hadits Nabi Muhammad ﷺ:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
(HR. Shahih Bukhari no. 1899, Shahih Muslim no. 1079)
Artinya:
“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Namun muncul pertanyaan yang sangat wajar, terutama di kalangan pelajar:
Kalau setan dibelenggu, kenapa masih ada orang berbuat dosa? Kenapa masih ada ghibah, mencontek, membuka aurat, menonton hal yang tidak pantas, bahkan kriminalitas?
Ternyata, Al-Qur’an dan Nabi ﷺ sudah menjelaskan jawabannya.
1. Haditsnya Benar dan Perlu Dipahami
Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda:
وَغُلَّتْ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ
(HR. An-Nasa’i no. 2106, Musnad Ahmad no. 7148)
Artinya:
“Dan para setan yang durhaka (setan-setan besar) dibelenggu.”
Para ulama menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah setan-setan besar (pemimpin setan).
Jadi Ramadhan bukan tanpa godaan, tetapi gangguan setan jauh lebih lemah dibanding bulan lain.
2. Ternyata Musuh Terbesar Bukan Setan
Allah berfirman:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
(QS. Yusuf [12]: 53)
Artinya:
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku.”
Artinya, penyebab manusia berbuat dosa bukan hanya setan, tetapi hawa nafsu dirinya sendiri.
Bahkan setan sendiri kelak berkata:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي
(QS. Ibrahim [14]: 22)
Artinya:
“Aku tidak memiliki kekuasaan atas kalian, aku hanya mengajak lalu kalian mematuhi ajakanku.”
Jadi sebenarnya manusialah yang memilih perbuatannya.
3. Maksiat Terjadi Karena Kebiasaan
Ketika Ramadhan datang, setan memang dilemahkan, tetapi kebiasaan buruk belum otomatis hilang.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
(HR. Ibnu Majah no. 1690, Musnad Ahmad no. 8856)
Artinya:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
Artinya puasanya sah, tetapi tidak mengubah akhlaknya.
4. Hati Menjadi Kunci
Allah juga berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ketika hati hidup karena dzikir dan ibadah, maksiat terasa berat.
Sebaliknya, ketika hati jauh dari Allah, dosa terasa biasa.
Hadits tentang setan dibelenggu adalah benar dan shahih.
Namun masih adanya maksiat di bulan Ramadhan bukan berarti hadits itu salah.
Justru itu menunjukkan:
- Setan bukan satu-satunya penyebab dosa
- Hawa nafsu manusia lebih berbahaya
- Ramadhan adalah kesempatan memperbaiki diri
Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi melatih kita mengendalikan diri, menjaga hati, dan memperbaiki akhlak.
Semoga kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus, tetapi juga ampunan dan perubahan diri menjadi lebih baik. Aamiin.
Allahu a'lam.
Thoriq M