Azra Tech · MARCH SMA MUHAMMADIYAH 1 SURABAYA (MASTERING)
Berita

Berita

Yang Dinilai Allah Adalah Akhirnya: Renungan Saat Ramadhan Hampir Berakhir

Tidak terasa, Ramadhan yang sejak awal begitu kita tunggu kini hampir sampai di ujungnya. Hari-hari yang dipenuhi dengan puasa, tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebaikan sebentar lagi akan berlalu. Ramadhan akan pergi, tetapi yang tersisa adalah catatan amal kita di sisi Allah SWT.

Di saat-saat seperti ini, ada satu hal penting yang patut kita renungkan bersama: bagaimana akhir Ramadhan kita?

Sebab dalam ajaran Islam, yang seringkali menjadi ukuran bukan hanya bagaimana seseorang memulai amalnya, tetapi bagaimana ia mengakhirinya. Banyak orang memulai dengan semangat, tetapi tidak sedikit yang melemah ketika berada di penghujung.

Padahal Allah SWT mengingatkan kita agar terus beribadah sampai akhir hayat. Allah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya:

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."

(QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah bukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, melainkan harus terus dijaga hingga akhir kehidupan.

Dalam ayat lain Allah juga berpesan kepada orang-orang yang beriman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

(QS. Ali ‘Imran: 102)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk beriman, tetapi juga menjaga iman itu sampai akhir hayat.

Rasulullah SAW juga pernah menegaskan sebuah prinsip penting dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Artinya:

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya."

(HR. Bukhari No. 6607)

Hadits ini memberikan pelajaran besar bahwa penutup dari sebuah amal memiliki nilai yang sangat menentukan.

Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga mengingatkan:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Artinya:

"Seseorang bisa saja melakukan amalan ahli surga menurut pandangan manusia, hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta, kemudian ketetapan Allah mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan ahli neraka lalu ia pun masuk neraka. Sebaliknya, ada orang yang melakukan amalan ahli neraka menurut pandangan manusia, hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, kemudian ketetapan Allah mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan ahli surga lalu ia pun masuk surga."

(HR. Bukhari No. 3208 dan Muslim No. 2643)

Hadits ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti atau membuat kita putus asa. Justru sebaliknya, hadits ini mengingatkan agar kita tidak merasa aman dengan amal yang sudah dilakukan, dan terus berusaha memperbaiki diri sampai akhir.

Jika kita kaitkan dengan Ramadhan, maka pesan ini terasa sangat relevan. Tidak sedikit orang yang sangat bersemangat di awal Ramadhan. Masjid penuh, tilawah Al-Qur’an meningkat, sedekah bertambah, dan berbagai ibadah lainnya dilakukan dengan penuh semangat.

Namun ketika Ramadhan memasuki hari-hari terakhir, semangat itu kadang mulai berkurang. Sebagian orang bahkan mulai sibuk dengan berbagai urusan dunia, persiapan lebaran, belanja, atau hal-hal lainnya.

Padahal justru sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang paling mulia. Di dalamnya terdapat malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadar.

Allah SWT berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:

*Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

(QS. Al-Qadr: 3)

Karena itulah Rasulullah SAW justru semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:

"Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya."

(HR. Bukhari No. 2024 dan Muslim No. 1174)

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ingin menutup Ramadhan dengan amal yang terbaik.

Dari sini kita belajar bahwa yang paling penting bukan hanya bagaimana kita memulai Ramadhan, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Ramadhan akan pergi, tetapi amal kita akan tetap tercatat. Karena itu, selama Ramadhan masih tersisa, mari kita manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Perbanyak istighfar, perbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menghidupkan malam dengan ibadah.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar, dan memberikan kepada kita akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Thoriq M


Share to :

0 Komentar

Kirim Pesan